Berita Sekilas

Awal April 2006 di AJBS Surabaya. Ayub S Parnata dibantu seorang pegawai baru saja menurunkan beberapa dus karton dari sebuah minibus. Mereka tengah bersiap untuk menata stan di ajang Surabaya Orchids Show 2006. Belum sempat barang dibawa ke dalam ruang pameran, beberapa orang datang menghampiri. Tanpa banyak bicara, mereka langsung memilih-milih barang di dalam dus. Dalam hitungan menit, 500 pot nepenthes yang dibawa ludes terjual. Dengan harga minimal Rp150.000 per pot, Ayub memperoleh pendapatan Rp25-juta. Padahal beberapa jenis dijual dengan harga Rp350.000 per pot. Pantas Ayub memilih untuk pulang ke Bandung tanpa sempat berpameran.
 
powered_by.png, 1 kB

Beranda arrow Berita arrow Berita arrow Sejarah Wisma Hijau
Sejarah Wisma Hijau PDF Print E-mail
Written by Administrator   
Monday, 09 August 2004
Image


Sesuai dengan namanya, Wisma Hijau – Kampus Diklat Bina Swadaya ingin menonjolkan suasana wisma – tempat pendidikan dan pelatihan yang bernuansa hijau, segar lantaran pagar bambu, tanaman rumput, tanaman hias, dan pepohonan perindang.


Dalam upaya merunut sejarah, pada tahun 1974, untuk mewujudkan gagasan Bapak Bambang Ismawan, Bina Swadaya mengadakan kegiatan pendidikan dan pelatihan dalam rangka mempersiapkan tenaga pendamping masyarakat. Kegiatan ini mengambil tempat di gedung percetakan lama, Kampung Tipar. Program Diklat ini dipimpin oleh Bapak Em. Haryadi. Selanjutnya, karena kebutuhan tenaga pendamping masyarakat semakin banyak, pada tahun 1979 Bina Swadaya membuat program pelatihan regular TPKS (Tenaga Pengembangan Kelompok Swadaya) dan kemudian mengembangkan program regular lain berupa Pelatihan Manajemen Pembangunan Swadaya Masyarakat (PSM), mulai tahun 1985, dengan dukungan dari lembaga dana.

Karena perkembangan kegiatan pelatihan, maka Bina Swadaya membeli sebidang tanah di Kampung Tipar, Mekarsari, Cimanggis, dan seterusnya mendirikan Kampus Diklat Bina Swadaya, yang terdiri dari 9 bungalow (wisma), 3 ruang pertemuan kelas, 1 ruang makan, 1 kantor dan 1 ruang perpustakaan . Nama masing masing bungalow (wisma) adalah Penyadar, Pembina, Penumbuh, Pembaru, Penata , Pewira , Penyuluh, Penegak dan Pengurus . Sampai dengan tahun 1993, peminat program pelatihan masih cukup tinggi.

Sejak tahun 1994, Lembaga dana tidak memberikan bantuan dana untuk pembiayaan pelatihan lagi, para peserta diwajibkan menanggung sendiri biaya pelatihan mereka. Untuk meringankan biaya pelatihan (TPKS), Bina Swadaya mempersingkat waktu pelatihan dari 4 bulan menjadi 3 bulan, bahkan menjadi 2 bulan. Biaya pelatihan yang dirasa masih cukup tinggi membuat minat peserta pelatihan menurun. Pusdiklat Bina Swadaya mengambil inisiatif menawarkan fasilitas yang ada untuk kegiatan pelatihan, seminar dan sebagainya kepada masyarakat luas. Langkah ini memperoleh sambutan cukup bagus, terbukti bahwa pada tahun tersebut wisma mampu mencatat surplus, bahkan disaat pelatihan tidak jalanpun, wisma bisa menutup defisit dari program pelatihan.

Sejak tanggal 1 Januari 1997 Wisma dianggap mempunyai prospek yang bagus dan perlu dipisahkan pengelolaannya dari program diklat, dengan nama Wisma Bina Swadaya. Selanjutnya, program Diklat diserahkan ke Direktorat Keswadayaan

Pada bulan Agustus di tahun yang sama Direksi menyarankan untuk mengganti nama “Wisma Pusdiklat Bina Swadaya” menjadi “Wisma Hijau - Kampus Diklat Bina Swadaya”.
Pada pertengahan tahun 1997, melalui Surat tanggapan Direksi atas Evaluasi Hasil Kerja Cawu II 1997, Direksi menyarankan untuk mengganti papan nama Diklat Bina Swadaya menjadi Wisma Hijau - Pusdiklat Bina Swadaya. Mulai awal tahun 1998, papan nama, kop surat, sampul laporan kerja maupun brosur memakai nama Wisma Hijau, yang tahun kelahirannya diputuskan 1982, sesuai dengan tandatangan prasasti peresmian Gedung Pusdiklat.
Last Updated ( Friday, 07 December 2007 )
 
< Prev   Next >
© 2008 Wisma Hijau
Joomla! is Free Software released under the GNU/GPL License.